KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 2.3
COACHING DALAM SUPERVISI PENDIDIKAN
oleh : Shomayya Rachmawati, S. Pd - CGP Angkatan 5 Kabupaten Bekasi
Selamat sore, pada
kesempatan kali ini izinkan saya untuk berbagi pengalaman serta merefleksikan
apa yang saya pelajari dalam modul 2.3 tentang coaching di Pendidikan Guru
Penggerak Angkatan 5 ini๐
- Pengalaman dan materi apa yang baru saja diperoleh?
Pada materi ini saya mendapatkan ilmu baru mengenai konsep coaching dalam supervise pendidikan. Sebagai soerang guru yang juga seorang pemimpin pembelajaran kita perlu mempelajari makna coaching. Kenapa? Sebelumnya kita perlu tahu apa itu coaching.
International Coach Federation (ICF) mendefinisikan coaching sebagai suatu bentuk kemitraan antara seorang pendamping (coach) bersama dengan klien (coachee) untuk memaksimalkan potensi pribadi dan profesional yang dimilikinya melalui proses yang menstimulasi dan mengeksplorasi pemikiran dan proses kreatif.
Dari definisi ini, ada 3 kata kunci yang dapat diambil yaitu kemitraan (partnership), memberdayakan (empowering) dan optimalisasi.
Sebuah praktik baik dalam pendidikan yang memerdekakan setidaknya harus memenuhi 3 kriteria yaitu berpihak kepada murid atau sesuai dengan kebutuhan murid yang didasarkan kepada empati kepada murid. berdampak kepada murid atau dengan kata lain ada bukti nyata perubahan positip yang dirasakan oleh murid dan bisa ditiru (dapat dirasakan oleh lebih banyak murid).
Berkenaan dengan hal di atas, coaching memainkan peranan yang sangat penting karena membuat murid merdeka dalam belajar untuk mengeksplorasi diri guna mencapai tujuan pembelajaran dan memaksimalkan potensi yang dimilikinya
Coaching memiliki perbedaan dari beberapa penerapan bimbingan seperti mentoring dan konseling. Perbedaannya tampak dari cara penerapan seperti pada mentoring yang identik pada pelaksanaan dengan tujuan yang berbeda yakni membagikan pengalamannya untuk membantu mentee. Sedangkan dalam konseling, seorang ahli (konselor) membantu langsung konseli. Implementasi coaching tidakah membantu secara langsung akan tetapi mengarahkan coachee untuk menyelesaikan masalahnya sendiri dan memaksimalkan potensinya
- Bagaimana emosi yang dirasakan saat mempelajari modul ini?
Awalmya saya bingung untuk membedakan antara mentoring, konseling dan coching karena hamper mirip semua. Namun setelah memaknai lebih dalam saya merasa sangat senang karena mendapat masukan- masukan baru yang bermakna.
Selama menjadi guru, tidak salah juga saya memerankan peran saya sebagai seorang mentor dan konselor pada anak didi saya ketika butuh bantuan. Namun, konsep coching merupakan penyempurna. Diibaratkan saya tidak hanya member umpan tapi member pancing kepada anak, sama – sama mendapatkan ikan tapi mereka akan berusaha mencari gaya mereka sendiri menggunakan pancing tersebut.
sangat mengapreasiasi sekali, Karena konsep coaching ini mengajarkan saya bagaimana seharusnya seorang guru menjadi coach bagi muridnya dimana guru berusaha mendengarkan aktif , menggali potensi murid tersebut untuk menemukan solusi
- Apa yang sudah baik berkaitan dengan keterlibatan dalam proses belajar?
Dalam proses pembelajaran sejatinya kita sudah menerapkan konsep coaching ini namun kita belum tahu bahwa apa yang kita lakukan sebelumnya merupakan praktik coaching. Setelah mempelajari modul ini, lebih maksimal lagi dalam membuat alur- alur coaching ketika menemani siswa dalam proses pemeblajaran.
Dalam penerapan coaching, kita bisa menggunakan Tahapan TIRTA yang terdiri dari menentukan Tujuan, Identifikasi masalah, Rencana aksi, serta penerapan hidup dengan Tanggungjawab atas rencana aksi yang sudah dikemukakan sebelumnya. Jadi, sebagai guru kita bisa lebih tertata dalam mengembangkan potensi anak ketika anak itu memiliki masalah baik dalam sekolah atau pribadi.
- Apa yang perlu diperbaiki terkait keterlibatan dalam pembelajaran?
Menurut saya, keberhasilan coaching setidaknya
akan ditentuan oleh kompetensi yang dimiliki oleh seorang coach. Pertama,
mendengarkan aktif. Seorang pendengar aktif tentunya akan menghindari judgement, asosiasi,
dan asumsi serta dapat menangkap emosi coachee. Kedua, pertanyaan berbobot
(pertanyaan efektif) yaitu pertanyaan terbuka yang timbul dari proses
mendengarkan. Dan ketiga, memberdayakan coachee.
Dalam hal ini, saya
perlu belajar lagi bagaimana cara mengajukan pertanyaan berbobot yang dapat mengarahkan
coachee untuk menggali potensinya dengan menghindari pertanyaan pertanyaan
terbuka
- Bagaimana keterkaitan terhadap kompetensi dan kematangan diri?
Keberhasilan coaching setidaknya akan ditentuan oleh kompetensi yang dimiliki
oleh seorang coach sebagai berikut. Pertama, mendengarkan aktif. Seorang
pendengar aktif tentunya akan menghindari judgement, asosiasi, dan asumsi serta dapat menangkap emosi coachee. Kedua, pertanyaan berbobot (pertanyaan efektif) yaitu
pertanyaan terbuka yang timbul dari proses mendengarkan. Ketiga, memberdayakan coachee. Dalam konteks ini, coach akan membantu coachee membuat rencana aksi spesifik, mendorong ide dari coachee pada saat berbagi pengalaman.
Berkenaan dengan hal
ini? Bagaiaman cara mengajukan pertanyaan yang berbobot?
Pada saat coaching,
kemampuan asertif merupakan salah satu kompetnsi diri yang penting dimiliki
oleh coach untuk keberhasilan coaching. Kemampuan
asertif merupakan kemampuan untuk mendengar perspektif orang lain dan
mengekspresikan dirinya dengan jujur dan penuh rasa hormat.
Dalam Komunikasi
asertif terdapat pernyataan atau ide-ide secara jelas dan dengan penuh rasa
percaya diri, tanpa merasa bersalah. Kemampuan asertif lebih melihat ke dalam
diri seseorang (misalnya memahami perasaan dan tujuan sendiri), bertanggung
jawab (terhadap apa yang dipikirkan, perilaku) dan jujur (menyajikan pesan
verbal dan non-verbal secara konsisten).
Koneksi dengan modul-
modul sebelumnya
Pada modul 2.1 tentang pembelajaran berdifernsiasi dijelaskan bahwa setiap orang itu istimewa. Setiap anak memiliki perbedaan cara dan kecepatan dalam belajar. Dengan demikian seorang guru harus mampu memberikan hak belajar yang sama kepada setiap siswa. Guru dapat menerapkan Teknik Scaffolding atau pendampingan khusus kepada siswa yang di anggap kurang dalam belajarnya. Seperti kesiapan belajar yang rendah dan kecepatan memahami materi pelajaran yang juga rendah. Selain itu, Teknik Coaching pun dapat membantu para siswa yang mendapat scaffolding tersebut. Dengan demikian kegiatan pembelajaran akan berajalan sesuai dengan yangdiharapkan.
Adapun teknik Coaching yang terkenal adalah coaching dengan teknik TIRTA yakni akronim dari beberapa hal yaitu: 'T' untuk Tujuan Utama, 'I' untuk Identifikasi masalah, 'R'untuk Rencana Aksi, 'TA'untuk Tanggung Jawab. Keempat hal ini harus digunakan dalam proses mendampingi coachee. Selain itu seorang ciach pun harus memenuhi tigakriteria utamaseorang coach yaitu kehadiran penuh, mendengarkandengan rasa, dan memberikan pertanyaa-pertanyaan berbobot. Dengan demikian proses pengidentifikasian masalah akan semakin signifikan dan tepat sasaran. Sehingga rencana Aksi jadi mudah dirumuskan. Dan solusi pemecahan masalah dapat ditemukan.
Pada Modul 2.2
tentang pembelajaran sosial emosional den Konsep sosial emosional. Dijelaskan
bahwa seseorang haruslah dalam keadaam kesadaran penuh atau mindfullness untuk
menyadari emosi yang sedang ia rasakan. Dengan demikian orang tersebut dapat
membuat keputusan dengan jauh lebih baik dari sebelumnya. Selain Pengenalan
emosi, Pengelolaan diri yang baik juga penting. Hal ini dapat dilakukan
dalam hal pengelolaan waktu ataudisiplin. Kesadaran sosial seperti empathi juga
sangatlah penting untuk dipelajari. Hal ini dilakukan guna menyadarkan bahwa
diri bukanlah satu-satunya orang yang punya masalah atau hambatan dalam
belajar.
Dengan demikian
Keterampilan sosial ini sanga butuh latihan sebagai wujud resiliensi seseorang
dalam memecahkan masalahnya. Dalam teknik Coaching ada tanggung jawab dimana
komitmen harus di lakukan. Dengan tujuan aksi nyata dari apa yang akan ia
lakukan dalam coaching dapat terealisasi dengan baik.
Tergerak, Bergerak dan Menggerakkan. Salam semangat ! ๐ช๐
Comments
Post a Comment